Pargalanggangan Ni Uning-uningan

SAMBUTAN
DRS. Z. PANGADUAN LUBIS
PADA PARGALANGGANGAN NI UNING-UNINGAN MANDAILING
DAN PATURUN SIBASO

Kotanopan, 31 Desember 2000

Pendahuluan

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Pada tahun 1987, yaitu kurang lebih 13 tahun yang lalu Yayasan Pengkajian Budaya Mandailing (YAPEBUMA) pertama kali menyelenggarakan FESTIVAL KESENIAN TRADISIONAL MANDAILING di tiga Kecamatan di Mandailing. Tiga tahun kemudian (1989) YAPEBUMA kembali menyelenggarakan festival yang sama di empat kecamatan di Mandailing. Pada kedua festival tersebut ditampilkan berbagai macam kesenian tradisional Mandailing berupa musik, tari, sastra, pencak silat, lawak, dll. Sambutan warga masyarakat Mandailing terhadap festival kesenian tradisional tersebut cukup baik.

Tujuan YAPEBUMA menyelenggarakan festival tersebut ialah untuk menghidupkan kesenian tradisional Mandailing yang cukup kaya tapi sudah lama terpendam disebabkan oleh berbagai hal. Di samping itu YAPEBUMA juga bertujuan untuk menimbulkan apresiasi warga masyarakat Mandailing, terutama generasi mudanya terhadap kesenian tradisional Mandailing yang tidak kalah mutunya dari kesenian tradisional suku-bangsa lain di negeri ini.

Pada masa sebelumnya ternyata kesenian tradisional Mandailing boleh dikatakan kurang sekali ditonjolkan oleh warga masyarakat Mandailing. Sedangkan warga masyarakat etnis lainnya selalu berlomba-lomba menonjolkan kesenian tradisional masing-masing. Para pengurus YAPEBUMA sangat prihatin melihat keadaan yang demikian itu. Oleh karena itu, meskipun dengan bersusah-payah, terutama dalam mengumpulkan dana, karena ternyata tidak cukup banyak orang Mandailing yang bersedia dengan suka-rela memberikan bantuan dana, YAPEBUMA berhasil juga menyelenggarakan Kesenian Tradisional Mandailing tersebut. Alhamdulillah.

Hasil yang utama dari festival itu ialah tumbuhnya kembali semangat dan apresiasi warga masyarakat Mandailing untuk Gordang Sambilan, baik dalam upacara adat maupun sebagai kegiatan kesenian di luar konteks upacara adat. Keadaan yang demikian itu diiringi pula oleh adanya usaha untuk membuat alat musik Gordang Sambilan, karena bermunculan peminat untuk membeli alat musik tradisional yang luar biasa itu.

Pada masa selanjutnya setelah YAPEBUMA menyelenggarakan dua kali festival kesenian tradisional Mandailing, penampilan Gordang Sambilan mulai sering dilakukan orang sebagai atraksi kesenian dalam berbagai kesempatan. Oleh karena itu warga masyarakat Sumatera Utara yang bukan orang Mandailing mulai tumbuh apresiasinya terhadap Gordang Sambilan, sehingga Gordang Sambilan mulai sering ditampilkan untuk berbagai upacara. Termasuk upacara-upacara resmi yang berskala besar. Dan pada gilirannya para pencinta Gordang Sambilan di Tano Rura Mandailing mulai pula mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan festival Gordang Sambilan.

Dengan munculnya kembali Gordang Sambilan ke permukaan, orang-orang yang bukan warga masyarakat Mandailing pun mulai tumbuh minatnya untuk belajar memainkan alat musik warisan budaya Mandailing tersebut. Di Jurusan Etnomusikolo Fakultas Sastra USU di Medan, para mahasiswa belajar memainkan Gordang Sambilan yang merupakan unikum dalam musik tradisional di seluruh dunia. Sebagai hasilnya, Gordang Sambilan pun sering dimainkan dalam upacara wisuda sarjana di Universitas Sumatera Utara (USU). Malahan ada dosen Jurusan Etnomusikologi yang menulis tesis mengenai Gordang Sambilan untuk mendapat gelar master (MA) dari salah satu universitas di Amerika.

Stasiun TVRI Medan pernah meraih pemenang pertama Lomba Gatra Kencana tingkat nasional karena menampilkan Gordang Sambilan dan beberapa macam musik tradisional Mandailing lainnya. Dan kini Gordang Sambilan sudah cukup dikenal pula di dunia internasional. Karena musik tradisional Mandailing tersebut dibawa mewakili musik tradisional dari Sumatera Utara ke Amerika dan Eropa dan berbagai negara asing lainnya.

Itu berarti bahwa Gordang Sambilan telah berhasil memperkenalkan nama Mandailing ke dunia Internasional. Malahan dalam bulan Desember 2000 ini, salah satu stasiun radio swasta di New York (Amerika) menyiarkan program khusus mengenai Gordang Sambilan sebagai alat musik tradisional Mandailing yangs elalu dimainkan dalam mengkahiri bulan suci Ramadhan atau merayakan Idul Fitri. Disamping itu berbagai informasi mengenai Gordang Sambilan telah dimasukkan dalam Web Site NATIONAL GREOGRAPHIC di Amerika Serikat. Dan hal ini terjadi berkat kontak-kontak internasional yang dilakukan pengurus Yayasan Pengkajian Budaya Mandailing (YAPEBUMA) untuk mencari peluang memperkenalkan kebudayaan dan kesenian tradisional Mandailing ke dunia internasional.

Sebelum YAPEBUMA menyelenggarakan Festival Kesenian Tradisional Mandailing yang pertama tahun 1987 dan yang kedua pada tahun 1998 Gordang Sambilan boleh dikatakan terbatas dikenal oleh masyarakat. Mengapa demikian?

Karena pada masa sebelumnya Gordang Sambilan boleh dikatakan hanya melulu digunakan untuk keperluan (upacara) adat di Mandailing. dan tidak diperkenalkan sebagai kesenian tradisional Mandailing. Dalam keadaan yang demikian itu, penampilan Gordang Sambilan hanya boleh dilakukan dengan memenuhi persyaratan adat. Antara lain harus memotong kerbau.

Persyaratan adat yang demikian itu cukup berat bagi warga masyarakat Mandailing untuk memenuhinya. Apalagi dalam keadaan ekonomi yang lemah. Oleh karena itu, maka puluhan tahun lamanya sejak pendudukan Jepang, Gordang Sambilan dikatakan jarang sekali ditampilkan. Akibatnya banyak alat musik Gordang Sambilan yang terdapat di beberapa tempat di Mandailing lama-kelamaan jadi lapuk dan rusak tanpa pernah dipergunakan. Orang-orang yang pandai memainkan Gordang Sambilan pun makin lama makin berkurang jumlahnya. Generasi muda Mandailing makin banyak yang tidak mendapat kesempatan untuk belajar memainkan Gordang Sambilan.

Barangkali kalau keadaan yang demikian itu terus saja berlangsug dan tidak ada inisiatif untuk menonjolkan Gordang sambilan sebagai (alat) musik tradisional Mandailing, maka besar kemungkinan Gordang sambilan akan punah.

Alhamdulillah, dengan ditonjolkannya Gordang Sambilan sebagai kesenian tradisional Mandailing, disamping tetap ditempatkan sebagai bagian dari adat Mandailing, kini Gordang Sambilan sudah mebgorbit ke dunia internasional dengan membawa nama Mandailing yang sangat kita cintai. Dan usaha untuk menonjolkan Gordang Sambilan bersama semua kesenian tradisional Mandailing Insya-Allah akan tetap kita lakukan. Baik oleh YAPEBUMA maupun siapa saja yang benar-benar mencintai dan menghargai serta bangga dengan kebudayaan dan kesenian tradisional Mandailing.

Dalam hubungan ini, menjelang kita memasuki abad ke-21 atau milenium ke-3, seraya memeriahkan Hari Raya Idul Fitri 1421 H., Yayasan Bindu Matogu (The Bindu Foundation) dengan bantuan penuh dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) di Jakarta, menyelenggarakan acara kesenian tradisional Mandailing di Kotanopan pada tanggal 31 Desember 2000 (5 Syawal 1421 H) ini.

Kotanopan sengaja dipilih sebagai tempat penyelenggaraan acara kesenian tradisional Mandailing tersebut, karena Bupati Kabupaten Mandailing Natal (MADINA) telah menyatakan kesepakatannya (menyetujui) usul yang diajukan oleh pengurus YAPEBUMA untuk menjadikan Kotanopan sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan di Mandailing, yang secara kultural akan mendampingi panyabungan yang akhirnya terpilih sebagai Ibukota Kabupaten Madina. Insya-Allah dengan demikian usaha kita untuk memberdayakan masyarakat Mandailing dan Natal serta masyarakat etnis lainnya yang terdapat di Kabupaten Madina akan berhasil baik dalam segala bidang, termasuk bidang pendidikan dan kebudayaan.

Dalam usaha untuk menjadikan Kotanopan sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan di Mandailing, Bupati Kabupaten Madina juga sudah sependapat dengan pengurus YAPEBUMA untuk membangun suatu Pusat Kebudayaan Mandailing di atas tanah kepunyaan YAPEBUMA yang terletak antara desa Maga dan Laru. Yaitu perbatasan tradisional antara kawasan Mandailing Julu dan Mandailing Godang.

Dalam hubungan ini, penyelenggaraan acara kesenian tradisional Mandailing di Kotanopan (tgl. 31 desember 2000 / 5 Syawal 1421 H) juga diproyeksikan untuk langkah awal persiapan pembangunan Pusat kebudayaan Mandailing tersebut.

Dengan dibangunnya Pusat Kebudayaan Mandailing tersebut, Insya-Allah seluruh masyarakat di Kabupaten Madina akan tumbuh kekuatan kulturalnya yang tangguh dan dapat diandalkan untuk menghadapi tantangan globalisasi. Kekuatan kultural yang tangguh itu ialah kekuatan budaya yang dapat memberi nilai tambah ekonomi bagi warga masyarakat di Kabupaten Madina di samping nilai tambah secara spritual.

Yayasan Bindu Matogu (The Bindu Foundation) yang merupakan “saudara kandung” dari Yayasan Pengkajian Budaya Mandailing (YAPEBUMA) sengaja diberi kesempatan untuk tampil sebagai penyelenggara acara kesenian tradisional Mandailing di Kotanopan agar sejumlah generasi muda Mandailing yang ikut mendukung perjuangan Yayaan Bindu Matogu memperoleh pengalaman di lapangan. Karena pengalaman lapangan itu sangat mereka perlukan sebagai pionir yang akan tampil nanti dalam berbagai kegiatan untuk mendukung usaha menjadikan Kotanopan sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan di Mandailing, dan juga untuk menjalankan berbagai kegiatan di Pusat Kebudayaan Mandailing tersebut di atas.

Tema

Acara kesenian tradisional Mandailing yang diselenggarakan di Kotanopan pada tanggal 31 desember 2000 tampil dengan tema pelestarian keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya yang bekerlanjutan. Dalam hal ini termasuk pelestarian lingkungan hidup.

Berkenaan dengan tema tersebut, kita mengetahui bahwa wilayah Mandailing Natal (Madina) yang baru akan berusia dua tahun pada tanggal 9 Maret 2001 nanti, memiliki keanekaragaman hayati yang cukup kaya. Seluruh warga masyarakat Mandailing berkewajiban untuk ikut serta melestarikan keanekaragaman hayati tersebut demi untuk kesejahteraan hidupnya.

Berkenaan dengan lingkungan hidup, kenyataan menunjukkan bahwa, seperti halnya banyak daerah lain, di wilayah Mandailing juga sudah terjadi kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh berbagai hal. Oleh karena itu merupakan kewajiban pula bagi seluruh warga masyarakat Mandailing untuk mencegah berlanjutnya kerusakan lingkungan yang sejalan dengan pelestarian keanekaragaman hayati harus didukung sepenuhnya oleh seluruh warga masyarakat Mandailing.

Dalam hubungan ini melalui acara kesenian tradisional Mandailing yang diselenggarakan di Kotanopan pada akhir bulan Desember 2000, sengaja ditampilkan berbagai kesenian tradisional Mandailing yang mengandung ajakan kepada warga masyarakat untuk bersama-sama melestarikan keanekaragaman hayati dan mencegah kerusakan lingkungan. Hal ini dilakukan dengan menampilkan nyanyian atau ende sitogol dan ungut-ungut yang liriknya berkenaan dengan pelestarian kenaekaragaman hayati dan lingkungan hidup.

Selain itu, sarama yang sengaja digali dari ritus yang merupakan tradisi lama, keadaannya disesuaikan atau diaktualisasikan sedemikian rupa, sehingga muncul berupa suatu bentuk seni pertunjukan yang tetap mengandung unsur-unsur tradisi lama tetapi tidak bertentangan dengan keadaan masa kini. Dan sebagai suatu seni pertunjukan unsur-unsur tradisi lama yang ritualistik dimunculkan sebagai kekuatan yang atraktif untuk mendukung penyampaian pesan-pesan. Dalam hal ini pesan-pesan tersebut berkenaan dengan tema pelestarian keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup.

Tujuan

Penyelengaraan acara kesenian tradisional Mandailing ini bertujuan untuk :
[1] Menggugah kesadaran warga masyarakat Mandailing tentang manfaat nilai-nilai budaya tradisionalnya sendiri;
[2] Merevitalisasi dan melestarikan nilai-nilai budaya tradisional (seperti yang terdapat dalam sarama) yang bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan sosial-budaya masyarakat Mandailing pada saats ekarang dan masa datang;
[3] Memanfaatkan kesenian tradisional untuk memberdayakan warga masyarakat sehingga potensial untuk ikut serta melestarikan keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup yang sangat diperlukan untuk kesejahteraan hidup warga masyarakat Mandailing khususnya dan bangsa Indonesia umumnya;
[4] Memberikan tontotan yang menghibur dan segar bagi warga masyarakat Mandailing (pada waktu merayakan Idul Fitri) yang sudah jarang sekali menyaksikan kesenian tradisional mereka sendiri.

Mata Acara

Dalam pertunjukan kesenian tradisional Mandailing pada tanggal 31 Desember 2000 di Kotanopan, mata acara yang ditampilkan ialah :
– Gordang Sambilan
– Tortor Naposo Nauli Bulung dengan iringan Gondang Boru dan nyanyian adat Jeir
– Ende Sitogol
– Ende Ungut-ungut
– Moncak
– Etek
– Marturi
– Uyup-uyup
– sarama dengan iringan Gordang Sambilan.
Mata acara ini dapat berubah oleh sesuatu keadaan yang memaksa.

Menggali dan Memanfaatkan Unsur-unsur Tradisi Budaya Lama

Dalam menghadapi pengaruh negatif dari kebudayaan dan atau kesenian asing kita perlu memperkuat kebudayaan dan atau kesenian kita dengan menggali kembali dan memanfaatkan tradisi lama yang diciptakan oleh nenek moyang kita di masa yang lampau.

Tetapi dalam hal ini kita harus menyadari bahwa ada di antara tradisi lama itu yang mengandung unsur-unsur negatif sehingga tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan keadaan sekarang. Misalnya dengan ajaran agama yang kita anut bersama. Tetapi kalaupun demikian halnya, dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama yang kita anut dan dengan cara yang benar-benar selektif dan penuh pertimbangan, unsur-unsur yang negatif itu tentu dapat kita singkirkan dan kita ambil unsur-unsur atau aspek-aspek yang positif dari tradisi lama yang bersangkutan. Dengan sikap dan cara yang demikian itu serta didasarkan pada niat baik, kiranya banyak di antara tradisi budaya lama yang masih dapat kita modifikasi sedemikian rupa sehingga unsur-unsur atau aspek-aspek yang positif dapat dipergunakan untuk tujuan yang positif pula.

Sebagai salah satu contoh ialah peribahasa Mandailing dari tradisi lama yang berbunyi:

Lak-lak di ginjang pintu
Singkoru di golom-golom
Maranak sampulu pitu
Marboru sampulu onom

Peribahasa dari tradisi lama ini isinya menganjurkan agar orang Mandailing sebaiknya punya anak laki-laku 17 orang dan punya anak perempuan 16 orang. Pada masa sekarang hal itu bertentangan dengan anjuran pemerintah untuk melaksanakan keluarga berencana. Tapi meskipun demikian peribahasa yang berasal dari tradisi lama tersebut tidak begitu saja dibuang oleh warga masyarakat Mandailing. Peribahasa dari tradisi lama itu tetap saja dipergunakan oleh orang Mandailing dalam pidato adat untuk upacara adat perkawinan. Tapi dalam penggunaannya pada masa sekarang unsurnya yang negatif (yang bertentangan dengan program KB) dibuang. dan unsurnya yang positif tetap dipergunakan. Dengan kata lain peribahasa dari tradisi lama tersebut dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tetap dapat dipergunakan. Hasil modifikasi tersebut berbunyi:

Lak-lak di ginjang pintu
Singkoru di golom-golom
Maranak bisuk-bisuk
Marboru pohom-pohom

Dengan kebijaksanaan yang demikian itu warga masyarakat Mandailing berhasil melestarikan dan tetap memanfaatkan warisan budaya leluhurnya yang berasal dari tradisi lama.

Usaha untuk tetap memanfaatkan tradisi lama dengan membuang unsur-unsurnya yang negatif dan menggunakan aspeknya yang positif kiranya merupakan tindakan yang terpuji dan tidak tabu untuk kita lakukan. Malahan perlu lebih banyak kita lakukan agar warisan budaya leluhur kita tetap dapat kita manfaatkan untuk kemajuan masyarakat kita di masa sekarang dan seterusnya di masa depan. Yang kita perlukan ialah orang-orang Mandailing yang kreatif, selektif dan bijaksana untuk menggali tradisi budayanya sebagai warisan leluhur yang dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bersama dalam segala bidang, termasuk bidang kesenian di abad 21 nanti, yang beberapa hari lagi akan kita masuki bersama.

Tantangan hidup pada abad 21 nanti kemungkinan akan lebih besar daripada di masa lampau. Oleh karena itu kita harus lebih bijaksana dan lebih memperluas cakrawala pemikiran dan visi kita. Kebudayaan dan kesenian tradisional Mandailing yang kita warisi harus lebih kita berdayakan untuk kesejahteraan dan kemuliaan warga masyarakat Mandailing dalam menghadapi tantangan abad ke-21 dan seterusnya. Untuk itu perjuangan hidup kita serta dengan perjuangan kultural yang religius agar mendapat ridha dan petunjuk dari Allah SWT, Amin.

Penutup

Kami dari Yayasan Bindu Matogu (The Bindu Foundation) sebagai penyelenggara acara kesenian tradisional Mandailing di Kotanopan, bekerjasama dengan Yayasan KEHATI Jakarta, mohon dengan segala kerendahan hati agar para pejabat dna pimpinan POLRI dan TNI setempat, para pemuka agama, pemuka adat, para hatobangon, tokoh-tokoh pimpinan tradisional Mandailing, na poso na uli bulung, serta seluruh koum-sisolkot, dengan segala keikhlasan hati (tanpa gut-gut) sama sekali) mendukung sepenuhnya penyelenggaraan acara kesenian tradisional Mandailing yang kami laksanakan untuk kemajuan seluruh masyarakat Mandailing.

Dan kami pun tidak lupa mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1421 H. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin untuk segala kesalahan dan kekurangan kami. Juga kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk segala bantuan yang kami terima dari semua pihak.

Satum-tum ma ita nian satahi
Sahata saoloan
Salangka saindege
Sapangambe sapanaili
Ulang be nian pajala-jelu
Songon parkuayam ni ajaran
Asa ulang muse sai marsiorgoskon api di gurung-gurung nabe
Ulang be sai ita padiar
Gut-gut mambaen sega mambaen sar-sar
Di angoluan ni ita sasudena
Horas ma nian tondi madingin
Pir tondi matogu
Sayur matua bulung

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Medan, 17 Desember 2000
Z. Pangaduan Lubis

Sumber: BUKU PANDUAN ACARA KESENIAN TRADISIONAL MANDAILING. Yayasan Bindu Matogu (The Bindu Foundation) dan Yayasan KAHATI. Kotanopan, 31 Desember 2000.

Explore posts in the same categories: Boa-boa

4 Komentar pada “Pargalanggangan Ni Uning-uningan”

  1. syahdan taufiq dalimunthe Says:

    saya sangat terkesan dengan apa yg dimiliki kebudayaan mandailing…..
    maju terus YAPEBUMA……………….
    lestarikan budaya mandailing…..

  2. Elita Sari Lubis Says:

    Tarimo kasi ma na sagodang-godangna tu Tulang na madung mambaen sude adat, silsilah dohot barita na adong di mandailing. Au pe boru Lubis na sian Singengu Jae do au. Sannari madung sikola kalas 2 SMK di Medan. Na tolu bulan on dompak magang au on di Jakarta, ima di ICT Centre Jakarta harana au jurusan Komputer. Sabotulna na ibo an rohakku, saing bahat halak Mandailing, sada maia na dong situs na. Na lain nai halak na lain doma. On pe marsiajar ma au on na ringgas anso binoto halak godangna Mandailing i. Obsesiku ima maraih prestasi na ginjang-ginjangna anso mur ma uskus goar ni Mandailing i Indonesia on, anggo bisa i dunia on. Ompungku ima raja di bagas godang Singengu na margoar Alm. Sutan Bugis Lubis. TORUS MA HITA MAJUON MANDAILING ON TU DUNIA ON, HORAS TONDI MADINGIN, PIR TONDI MATOGU, SAYUR MATUA BULUNG.

  3. Jaruntut Nasution Says:

    di balik semua kebanggaan saya sebagai orang mandailing terutama Madina tetapi saya sangat sedih dan sangat mengecam banyaknya kasus-kasus KKN yang dilakukan oleh para pejabatnya. Rakyat kecil semakin tertindas atas kesewenang-wenangan dari para tikus berdasi yang sangat lihai menyimpan identitasnya dengan penyuapan. NO CORRUPT! KILL THE CORRUPTORS


  4. hita patidaon sanga ise ita halak mandailing on! marprestasi ma hita sampe tu kancah dunia, anso mur ma uskus ma goar ni MANDAILING, TANO HASORANGANTA


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: