Tradisi Musik dan Tabu

Kehidupan sosial orang Mandailing diwarnai oleh tata krama pergaulan yang disebut baso dan sangko. Setiap individu harus menghormati dan menghargai orang lain demi tercapainya keharmonisan hidup sesama mereka. Dua anggota masyarakat yang dikenai etika sosial baso harus saling memperhatikan dan melaksanakan norma-norma adat yang berlaku. Misalnya kita (ego pria) tidak boleh bertatapan dan berbicara lama-lama dengan isteri dari adik laki-laki kita, dan berbicara hanya seperlunya. Untuk mengurangi kontak antara mertua pria (disebut amangboru) dengan menantu (disebut parumaen)nya diciptakan pula tradisi manjae atau mangasing, dimana sebulan setelah menikah kedua mempelai biasanya pindah ke rumah baru mereka di kampung yang sama, atau bisa juga masih dekat dengan rumah orang tua si laki-laki. Sejalan dengan ini, menantu pria (disebut babere) pun tidak akan mau berlama-lama di rumah mertua (disebut tulang)nya yang tiada lain karena menyangkut masalah baso itu juga. more musik-tradisi-dan-tabu.pdf

Explore posts in the same categories: Seni & Budaya

One Comment pada “Tradisi Musik dan Tabu”

  1. aneomen Says:

    salam kenal………………
    mampir ya ke blog saya ya bang
    http://www.aneomen.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: