Dari Manggore Ke Mardompeng

 

Akhir-akhir ini tidak sedikit orang Mandailing yang menambang emas di sekitar Batang Gadis, terutama di wilayah Kotanopan (Mandailing Julu). Mereka menambang emas dengan cara baru yang disebut mardompeng, yaitu dengan memanfaatkan tenaga mesin diesel untuk menyedot pasir dan lumpur yang mengadung bijih-bijih emas (sere) dan “pasir hitam” (alom) dari dalam sungai atau tempat-tempat galian tertentu di pinggir sungai, serta untuk memisahkan bijih-bijih sere dari alom

MardompengSebagian orang mengatakan bahwa secara ekonomis kegiatan mardompeng ini cukup memberi harapan hidup yang lebih baik terutama karena pada masa sekarang harga getah karet dan hasil-hasil ladang lainnya sedang jatuh di pasaran, yang kalau di masa dahulu musim pacekelik seperti ini disebut aleon. Namun demikian ada juga orang yang berpendapat bahwa mardompeng dapat merusak lingkungan hidup sekitar, terlebih-lebih apabila kegitan mardompeng nantinya semakin marak dan meluas di Mandailing Julu. Dalam hal ini, ada pula orang yang berpandangan bahwa Tano Sere Mandailing ini merupakan “berkah” dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Berdasarkan tradisi manggore di Batang Gadis dan sekitarnya di masa-masa lalu, biasanya bijih-bijih emas bisa diperoleh lebih banyak dan mencukupi apabila warga setempat benar-benar sedang mengalami kesusahan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Apakah warga setempat sekarang benar-benar sedang mengalami aleon ?!! 

Dahulu kegiatan menggore biasanya mulai dilakukan sebelum tanaman padi berbuah (mabibi) hingga masa panen (manyabi) tiba. Dalam rentang waktu ini memang banyak warga setempat yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan makanan pokoknya yaitu beras. Hal ini terjadi karena pada umumnya masyarakat Mandailing Julu hanya memiliki areal persawahan yang relatif sempit sehingga hasilnya tidak cukup untuk makanan sepanjang tahun. Dengan kata lain, sebelum masa panen berikutnya tiba, persediaan padi telah habis dikonsumsi. Oleh karena itu, selain mengandalkan hasil-hasil tanaman keras seperti karet, kopi, ataupun kayu manis yang dijual untuk dapat menutupi kebutuhan hidup mereka juga melakukan kegiatan manggore

Memang, sejak dahulu sampai sekarang tanah Mandailing dikenal dengan sebutan Tanah Emas yang dalam bahasa Mandailing adalah Tano Sere atau Tano Omas Sigumorsing. Hal ini terbukti misalnya dengan adanya istilah garabak ni agom (bekas-bekas penambangan emas oleh orang Agam-Minangakau) di sekitar Ulu Pungkut, Mandailing Julu. Kemudian semasa penjajahan kolonial Belanda pernah ada pula sebuah tempat penambangan emas di dekat Muarasipongi. 

Gusti (27) salah seorang penambang memaparkan, untuk melakukan penambangan langkah pertama adalah mencari lokasi penambangan yang cocok di sekitar pinggiran sungai. ”Pertama kita pastikan dulu tempatnya. Bisa saja di pinggiran sungai. Atau kalau kita sanggup, di tengah sungai juga bisa,” papar Gusti, sembari duduk bersila di atas batu seraya mengisap rokok di pinggiran sungai.  

Tempat tersebut kemudian di empang dengan batu, agar arus sungai tidak membongkar tambang ketika dikorek ke bawah. Di hilir tambang, dipasang papan berdinding yang dialiri arus air sungai. Sebelumnya, papan yang disebut ”handaran” ini ditutupi dengan plastik dan karung goni jerami. Biasanya aksi penambangan ini dilakukan secara berkelompok, empat sampai lima orang perkelompok. 

Salah seorang kemudian masuk ke dalam tambang, dan mulai melakukan pengorekan, menggunakan centong yang terbuat dari plat drum. Tanah yang dikeruk kemudian dimasukkan ke dalam papan pengayakan. Sementara yang lainnya, duduk atau jongkok di atas handaran, untuk mengurai pasir korekan.

”Ya! Beginilah bang caranya. Batu dan pasir akan hanyut dibuat arus sungai. Sementara yang berbentuk logam seperti emas akan tertinggal di atas goni jerami. Jadi kita tinggal mengambilnya, dan memasukkannya ke tempat yang sudah disediakan,” urai Gusti, sambil menunjukkan sekeping mas sebesar biji cabai yang terlihat mengkilat di atas goni jerami.

Lanjut Gusti, karena setiap saat dikorek, otomatis tambang akan semakin dalam. Kadang kala bisa mencapai 3 meter ke dasar sungai. Semakin dalam lobang yang dikorek, semakin besar harapan menemukan emas yang dicari. Dan tentunya semakin sulit untuk melakukan pengorekan karena harus menyelam ke dasar lobang untuk mengambil tanah korekan.

Gusti juga menjelaskan, selain dengan cara ini, sebagian masyarakat sudah ada yang menggunakan mesin pengisap tanah atau istilahnya ”Mardompeng”. Sebenarnya sambung gusti, caranya hampir sama. Kelebihannya dengan mesin, kapasitas penambangannya bisa lebih dalam. Dan tentunya, biaya operasionalnya lebih besar. 

Sebenarnya kata Gusti, dari tahun ke tahun tetap tanah itu juga yang ditambang oleh masyarakat. Usai ditambang dan emasnya dikuras, lobang kemudian dengan sendirinya tertutup kembali karena arus air. Jika musim Manggore datang, tanah ini kemudian ditambang lagi. Uniknya, masyarakat tetap saja menemukan emas di dalamnya. 

Aktivitas penambangan ini sebenarnya merupakan mata pencaharian musiman di desa ini. Sedangkan mata pencaharian asli masyarakat di Desa Muara Siambak adalah menyadap getah pokok karet. Namun karena murahnya harga karet akibat deraan krisis global, masyarakat beralih profesi menjadi penambang emas. Hasilnya juga lumayan. Bila sedang bagus, masyarakat bisa bergaji hingga ratusan ribu perharinya. Apalagi saat ini harga emas dunia tengah melonjak.” (Lihat Zainul Arifin Siregar, Sag, “Mendulang Emas di Batang Gadis”, http://www.kabarindonesia.com/ berita.php?pil=10&jd=Mendulang+Emas+di+Batang+ Gadis&dn=20090408122519)

Begitupun, kita tidak boleh hanya mengutamakan aspek ekonomi semata, melainkan juga harus memperhatikan keseimbangan dan kesehatan lingkungan hidup kita bersama. 

Jakarta, 22 Mei 2009

edi nasution

Informasi tambahan lihat:

http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=44199

http://www.jambi-independent.co.id/home/modules.php?name=News&file=article&sid=8488

http://www.antara-sumbar.com/id/?mod=berita&j=&id=15669

http://www.antara-sumbar.com/id/index.php?mod=berita&d=17&id=9057

http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Metropolis&id=12387

http://www.jambi-independent.co.id/home/modules.php?name=News&file=print&sid=5903

Explore posts in the same categories: Artikel

2 Komentar pada “Dari Manggore Ke Mardompeng”


  1. Sungguh kaya tanah bumi Mandailing. Emasnya bisa dikorek di sungai sahaja. Tano Omas !

  2. edi nasution Says:

    Apa khabar Sodaraku!!!
    Kalau tidak salah, orang-orang Mandailing pendatang mula-mula di Tanah Semenanjung juga umumnya melakukan aktivitas “manggore”, namun yang “digore” bukan “sere” tetapi “timah”, dimana aktivitas penambangan ini disebut “melombong” di Pahang dan Selangor.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: