Mochtar Lubis: Pahlawan Saya Mahatma Gandhi

 

Dalam usia 70 tahun pekan lalu, wartawan sejak sebelum perang ini mengenang banyak hal. Dari “zaman keemasan pers Indonesia”, hubungannya dengan Bung Karno, sampai bagaimana menjaga semangat dalam sel penjara. Dialah wartawan Indonesia yang banyak memperoleh penghargaan internasional: antara lain Hadiah Ramon Magsaysay dari Filipina, dan Pena Emas dari Federasi Pemimpin Redaksi Sedunia. Sastrawan yang juga banyak meraih hadiah ini, yang mendirikan majalah sastra Horison, dan salah seorang anggota Akademi Jakarta ini bertutur tentang semua itu kepada Leila S. Chudori.

===================o0o======================== 

Saat itu saya masih berusia sembilan tahun. Dan saya ingat betul, di suatu pagi, ayah yang bekerja sebagai seorang demang di Kerinci melarang kami bermain di halaman belakang rumah kami yang luas. Rumah kami yang terletak di bukit memang dipenuhi pohon, dan kami sering memanjat pohon-pohon itu untuk memandang kota Sungai Penuh atau menonton yang terjadi di halaman belakang penjara. Tapi, justru karena ayah melarang, saya jadi penasaran. Saya terbelalak, karena saya melihat ayah saya beserta seorang dokter kenalan keluarga kami dan kontrolir Belanda berdiri di halaman belakang penjara. Kemudian dua tahanan yang lunglai keluar dari pintu penjara diiringi pengawal penjara.

Tahanan itu diperintahkan tengkurap di dua balai. Kaki dan tangan mereka diikat. Dua orang berpakaian hitam dan membawa cambuk panjang menyusul. Setelah dokter memeriksa kedua tahanan, kepala penjara memberi perintah pada dua orang berpakaian hitam tadi. Maka keduanya memulai mencambuki punggung kedua narapidana itu. Setiap kali cambuk itu mendarat di punggung mereka, hatiku terasa ikut dicambuk. Dari jauh saya bisa melihat dengan jelas darah segar yang menetes. Kenapa Bapak tidak menghentikan tindakan itu ? Dan bagaimana dokter kenalan kami bisa berdiri disana ? Lalu, kenapa kepala polisi yang selama ini begitu ramah tamah pada kami kelihatan garang disana ? Saya tak tahan lagi,saya menangis ,saya berlari kerumah.

Dirumah saya katakan pada ibu badan saya panas. Saya meringkuk di tempat tidur sampai Bapak pulang. Siang hari, Bapak banyak memandangi saya dengan lembut. Saat itu saya menyadari, ia pasti tahu bahwa saya mengintip kejadian itu. “Sekarang kau mengerti kenapa aku selalu melarang anak-anakku untuk menjadi pegawai Belanda. Cukup satu saja di keluarga ini!” katanya sambil mengusap kepala saya.

Saya menangis dengan hati perih. Belakangan saya baru tahu identitas kedua narapidana malang itu. Bapak bercerita bahwa kedua orang yang dicambuk itu kuli kontrak dari pulau Jawa. Mereka bekerja di perkebunan teh terbesar di Indonesia di daerah Kayu Aro, Kerinci. Karena upah mereka tidak memadai, maka para kuli ini suka meminjam uang. Nah, jika kontrak habis sementara mereka masih berhutang, terpaksa mereka bikin kontrak baru dengan Belanda. Ini menyebabkan mereka harus jadi kuli kontrak sampai mati. Mereka yang sudah tidak tahan dengan beban itu lalu mencoba melarikan diri. Mereka yang kabur dan tertangkap itulah yang dipecut punggungnya hingga keluar darah. Kejadian ini terus membayang di benak saya, hingga mempengaruhi pandangan saya terhadap keadilan. Dan agaknya peristiwa inilah menjadi dasar dari sikap saya sebagai wartawan maupun sebagai penulis.

MASA KECIL

Sentuhan saya pada kesenian sebenarnya diawali dengan melukis. Saya mulai melukis ketika saya masih di sekolah rakyat. Baru ketika saya duduk di kelas V saya mulai menulis cerita anak-anak. Mungkin saya terpengaruh oleh ibu saya yang sering mendongeng dan saya mengulangnya buat adik-adik. Abang dari ibu saya seorang seniman Mandailing yang menulis syair-syair dalam huruf Mandailing.

Ibu melahirkan saya di Padang 7 Maret 1922 sebagai anak keenam. Kami semua berjumlah 10 bersaudara yang terdiri lima perempuan dan lima lelaki. Ibu saya , Siti Madinah bermarga Nasution meninggal ketika berusia 96 tahun. Ayah saya Raja Padapotan bermarga Lubis meninggal ketika berusia 75 tahun. Meski lahir dan dibesarkan di Padang, saya tetap merasa sebagai seorang Mandailing. Bagi saya, Mandailing adalah tanah yang cantik. Pada zaman kolonial, daerah itu masih penuh harimau, gajah, dan burung-burung dan tak mungkin saya bisa-lupakan alamnya dan gunung Merapinya, ada sungai yang indah berpasir mengandung emas. Orang Mandailing mencari nafkah dari tanaman karet, tapi jika harga karet jatuh, mereka ke sungai mendulang emas.

Meski ayah saya bekerja sebagai demang, tak bosan-bosannya ia mengatakan kepada kami, “Jangan kalian bekerja kepada pemerintah Belanda.” Sebagai pegawai Belanda, ayah saya terkenal tegas, tak pandang bulu. Ia pernah diturunkan pangkatnya gara-gara menampar seorang kontrolir Belanda. Ayah saya kesal karena kontrolir itu bersikap congkak. Kesadaran bahwa kita dijajah cepat sekali tumbuh di dalam diri saya. Ayah tak mau menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Belanda. Ia masukkan abang saya ke America Methodist Boys Scool di Medan, abang saya tertua dikirim sekolah di Singapura, dan saya sendiri setelah lulus sekolah rakyat dikirim ke Sekolah Ekonomi di Sumatera Tengah. Padahal, saya ingin masuk MULO, karena saya ingin jadi dokter. “Jangan! Kalau kamu sekolah dokter, nanti bekerja pula sama Belanda,” cegah ayah saya. Jadi, dengan berat hati saya Sekolah Ekonomi di Kayu Tanam, di kaki gunung di luar kota Padang. Sekolah ini memang agak istimewa dari segi kurikulum maupun filsafat. Ini sekolah yang didirikan oleh salah seorang tokoh pendidikan yang bernama S.M Latief. Ia lulusan pertanian tinggi di Nederland.

Latief membangun sekolah ini dengan tujuan mendidik anak Indonesia untuk menjadi mandiri, merdeka dan anti kolonialisme. Mereka mengajar kepada murid agar para murid jangan ada yang mau bekerja dengan Belanda setelah lulus nanti. Akhirnya, saya memang menyukai guru-gurunya dan setuju dengan filsafat sekolah itu, yakni anti kolonialisme. Maka kami mengerti apa arti penjajahan, mengapa kita menginginkan kemerdekaan, apa arti Indonesia Raya, apa harga diri bangsa, dan seterusnya. Dalam hal kurikulum, sekolah ini agak berbeda dengan sekolah umum lainnya. Anak-anak yang bersekolah disitu bisa meneruskan SMP ke SMA yang sama. Dan masih semuda itu, kami sudah diajarkan pemikiran Adam Smith dan teori ekonomi lainnya. Selain itu, mereka juga tidak ingin menjejalkan hafalan seenaknya. Mereka ingin kami mengerti filsafat hidup melalui berbagai praktek. Misalnya, suatu hari kami diajarkan main catur. Mula-mula saya heran dan tidak melihat konteks pengajaran catur dalam hidup. Setelah delapan bulan gurunya, bertanya, kenapa kita belajar main catur. Semua murid mengangkat tangan. Seorang kawan saya menjawab, “karena permainan ini mengajak kita berpikir berbagai langkah dan antisipasi ke masa depan dan belajar berpikir yang matang.” Dan guru saya membenarkan.

Ketika libur, anak-anak yang sudah kelas senior disuruh latihan kerja di perkebunan karet atau perkebunan kelapa sawit atau di pabrik dan dianjurkan bergaul dengan kuli-kuli. Selain itu, karena kami tinggal di asrama dengan fasilitas yang lengkap tersedia. Kami bisa main tenis, berenang, atau naik gunung. Jika pelajaran botani, kami diajak masuk hutan untuk mempelajari kekayaan tanaman Indonesia selama 10 hari atau lebih. Jadi kami tidak mengurung diri di kelas saja. Yang paling mengesankan adalah perpustakaan sekolah yang saat itu yang terbesar di Sumatera karena memiliki 35 ribu buku. Latief mempunyai cara sendiri untuk mengumpulkan buku sebanyak itu. Setiap tiga bulan sekali, ia menerbitkan sebuah majalah bernama Resensi dalam empat bahasa: Jerman, Belanda, dan Prancis. Kemudian dia kirimkan ke semua penerbit di seluruh dunia. Maka para penerbit mengirim buku-buku sastra, ekonomi, politik, dan buku-buku lainnya ke perpustakaannya. Yang lebih penting lagi, kami selalu didorong untuk selalu membaca. Cara mereka mendorong kami adalah dengan memberikan kredit angka jikalau kami bisa menceritakan kembali buku yang sudah kami baca. Melalui perpustakaan itulah saya mengenal karya sastra dunia. Saya ingat betul, salah satu buku yang berkesan bagi saya dimasa kanak-kanak adalah Tom Sowyer karya Mark Twain yang terjemahannya diterbitkan oleh Balai Pustaka. Sungguh saya melihat diri seolah-olah seperti Tom yang senang bertualang itu. Saya juga terkesan oleh karya Hernet Becheer Stowe yang berjudul Uncle Tom’s Cabin. Betapa sedihnya ketika saya membaca halaman terakhir buku itu. Setelah lebih dewasa, saya mulai menyukai buku sastra klasik Perancis karya Dostoyesky dan berbagai sastra klasik Perancis dan Inggris. Untuk sastra kontenporer saya penggemar Albert Camus dan Ernest Hamingway.

Ketika saya berusia 16 tahun saya bergabung dengan Indonesia Muda, sebuah pergerakan yang mendukung gerakan nasionalis untuk merebut kemerdekaan. Anggotanya adalah pemuda berusia 16 ke atas.

MASA PENJAJAHAN

Sebelum Perang Dunia II, sekitar tahun 1940-an, saya lulus sekolah. Karena saya bercita-cita ingin menjadi dokter, maka saya pindah ke Jakarta. Semula saya berkerja di Bank Factorij, sebuah bank besar Belanda yang mendukung finansial industri gula di pulau Jawa. Sementara abang saya, Bactar Lubis, yang sekolah di America Methodist Boys Scool,sudah bekerja di konsulat jenderal Inggris. Selama saya bekerja di sana, saya selalu berterus terang pada rekan Belanda, “kalian tak boleh berlama-lama di sini.” Lalu kami mulai berdiskusi hingga meningkat menjadi perdebatan yang panas. Dua tahun kemudian, Jepang datang. Kantor Bank Fatorij langsung disita. Saya ingat betul, betapa gembiranya kawan-kawan saya yang menyangka akan dibantu orang jepang. Ketika Jepang mendarat di Banten, orang Jakarta sudah siap menyambut. Saya menunggu mereka di Hayam Wuruk. Di sebelah saya ada seorang nyonya muda Belanda dengan anaknya yang berumur sekitar lima tahun. Ketika tentara Jepang masuk, baunya menyerang hidung kami karena mereka baru saja berperang dan tak pernah mandi. Ada yang menuntun sepeda dan semua membawa senapan yang lebih panjang dari badannya. Eh, tiba-tiba anak kecil Belanda itu berteriak dalam bahasa Belanda sambil menunjuk bendera Jepang, “Mami, mami alangkah jeleknya bendera itu, mami…” Ibunya menyuruh anaknya menutup mulut sambil melirik saya, wajahnya tampak ketakutan. Saya tersenyum padanya. Dan nyonya muda itu membungkuk sedikit serta menarik anaknya, lalu mereka pergi.

Disitulah saya melihat betapa takutnya Belanda terhadap orang Jepang. Orang Indonesia pada umumnya gembira bukan karena Jepang masuk Indonesia, tapi gembira merayakan kekalahan Belanda. Ada yang percaya bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaan itu dan adapula yang curiga dengan kehadiran Jepang. Belum lama ini terbuka bagaimana tentara Jepang memperlakukan wanita-wanita Korea. Saya merasa mereka pernah memperlakukan hal yang sama terhadap perempuan Indonesia. Saya mendengar dari beberapa kawan, mereka melihat perempuan-perempuan Indonesia yang dibawa ke Tanjung Priok untuk dikirim ke Ambon dan ke tempat lain tentara Jepang bertugas. Entahlah. Memang ada yang melakukan investigasi tentang hal ini. Saya menganggur sekitar sebulan. Bang Bachtar bergabung dengan stasion radio yang saat itu sudah dikuasai Jepang. Bang Bachtar menginformasikan bahwa kantor radio militer Jepang memerlukan anggota redaksi yang mampu siaran berbahasa Inggris. Saya melamar dan diterima. Maka, pekerjaan saya setiap hari mendengarkan VOA, BBC, Radio Australia, Radio Belanda, dan Radio siaran asing lainnya. Setelah itu saya harus mencatat dan bikin laporan dan komentar.

Selain saya, ada beberapa orang Indonesia dan orang Belanda bekas redaksi Kantor Berita Belanda di Indonesia, Aneta yang bekerja di sana. Kantor radio militer Jepang itu terletak di jalan Riau, belakang President Hotel sekarang. Saya senang karena saya bebas mengetahui apa yang terjadi di dunia dan setiap kali ada berbagai informasi, saya sampaikan pada Bang Bachtar yang ikut gerakan mempersiapkan perjuangan untuk merebut kemerdekaan. Jepang memang kejam. Tapi mereka memperlakukan saya cukup baik. Terus terang, secara tidak langsung, saya belajar jurnalistik ketika bekerja di radio militer jepang itu. Saya ikut latihan militer karena senang dengan latihannya yang keras. Pada zaman Jepang pula saya berkenalan dengan Hally yang kemudian menjadi istri saya. Ceritanya, Hally dulu bekerja sebagai staf di surat kabar Asia Raya yang diterbitkan Jepang. Ia berkawan dengan istri Rosihan Anwar yang bekerja di sana. Banyak wartawan bekerja disana, termasuk B.M Diah dan Rosihan Anwar. Nah, saya berkenalan disitu.

Saat itu, sabun wangi sangat sukar didapat. Kebetulan saya menjadi salah satu juru distributor sabun wangi kepada kawan-kawan. Nah, salah satu sabun itu saya berikan pada Hally, untuk merayunya, ha,ha,ha … maklum sabun wangi adalah barang eksotik saat itu. Kami berpacaran dan menikah tahun 1945. Bulan Agustus 1945, saya sudah berjanji pada Bang Bachtar, saya akan memberitahu mereka jika Jepang kalah. Bang Bachtar dan kawan-kawannya sudah mempersiapkan pemuda-pemuda Indonesia. Jadi begitu saya mendengar berita tersebut, langsung saya kasih tahu padannya. Bang Bachtar, Jusuf Ronodipuro, Taslim Ali, dan kawan-kawannya yang lainnya akhirnya merebut RRI Jakarta. Karena Bachtar dianggap salah satu pemimpin yang merebut RRI dari tangan Jepang, ia ditangkap polisi Kenpentai dan disiksa cukup berat. Setelah proklamasi ia masuk Akademi Militer Yogya.

MENJADI WARTAWAN

Setelah proklamasi, seorang kawan yang bekerja di Kantor Berita Antara mengajak saya membantu Antara. Sebetulnya Kantor Berita Antara sudah didirikan di masa penjajahan Belanda, tapi pada masa pendudukan Jepang sempat dipegang oleh kantor berita Jepang Domei. Setelah Jepang kalah, Bung Adam Malik membenahinya kembali. Seorang wartawan Antara, Syahrudin juga mengajak saya untuk bergabung. Saya segera bergabung karena memang tertarik untuk menjadi wartawan. Beberapa hari setelah saya bekerja, tiba-tiba Bang Bachtar mengajak saya masuk Akademi Militer di Yogya. “Kita harus ikut bertempur melawan Belanda yang akan datang ke sini. Abang sudah mendaftar di AMN. Kalau kamu mau ikut, kita bisa atur …” katanya. Terus terang, saya sempat tertarik untuk ikut berjuang dengan senapan. Maklum saat itu saya masih muda dan jiwa saya masih berkobar-kobar. “Tunggu dulu, Bang. Saya sudah berjanji dengan Bung Adam (Malik) untuk membantu Antara. Saya harus bicara dulu dengannya,” jawab saya. “Baik, saya tunggu tiga hari,” kata Bang Bachtar.

Saya agak bingung dan saya datangi Bung Adam. “Bung Adam, program perjuangan kemerdekaan nampaknya harus berubah … saya mau masuk militer saja …” kata saya. Bung Adam kaget. “Ah, jangan. Berjuta pemuda Indonesia sudah siap berjuang angkat senjata. Tapi yang berjuang dengan pena susah dicari,” bujuk Bung Adam. “Aduuuh,” saya garuk kepala, “kasih waktu dua harilah, Bung.” Buat saya pendapat Bung Adam dan Bang Bachtar sama-sama sah dan berharga. Perjuangan pena maupun senjata sama beratnya, hanya lapangan yang berbeda. Dilema ini menyebabkan saya tak bisa tidur semalaman. Tapi, saya tertarik dengan bidang jurnalistik. “Bang, saya mau jadi wartawan saja …,” kata saya akhirnya. Bang Bachtar berangkat, lulus AMN, jadi letnan dan bertempur di daerah Krawang Bekasi.

Tahun 1949, muncullah ide untuk mendirikan sebuah harian yang independen dari pengaruh Belanda. Kawan-kawan mengatakan bahwa kita perlu satu suara yang mewakili Republik Indonesia. Ide dan dorongan datang antara lain dari Hasyim Mahdan, juru bicara komando militer Jakarta Hiswara, seorang wartawan Kolonel Dan Yahya, Gubernur Militer Jakarta dan saya. Indonesia Raya lahir tanggal 29 Desember 1949 dengan filsafat Dari Rakyat Untuk Rakyat. Logonya berwarna hitam dan terbit hanya empat halaman. Headline kami yang pertama adalah tentang timbang terima kedaulatan Indonesia di Istana Merdeka. Karena dulu belum ada yang namanya SIT (Surat Ijin Terbit) atau SIUP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers), jalan untuk penerbitan Indonesia Raya sangat mudah. Cukup hanya dengan mendaftar kantor polisi saja. Saat itu jumlah “awak kapal” Indonesia Raya hanya sekitar 15 orang, termasuk reporter dan korektor. Pemimpin Redaksi pertama adalah Hiswara, dan beberapa saat kemudian, baru saya menggantikannya.

Memang saat itu pers belum menjadi industri besar. Penghasilan Indonesia Raya sebagian besar tertolong karena kami dilanggani beberapa ribu eksemplar oleh Angkatan Darat, yang beranggapan perlunya surat kabar yang mendukung Republik Indonesia untuk mengimbangi pers Belanda. Seingat saya, demikian pula keadaan oplah harian Pedoman dan Abadi. Dalam keadaan kesulitan cashflow, selalu ada saja pengusaha yang membantu kami, antara lain almarhum Syahzam, adik Perdana Menteri Syahrir Dasaad Haji Gani. Saya merasakan yang sering kami sebut secara bergurau sebagai zaman keemasan pers Indonesia.

Di tahun pertama kemerdekaan sistim parlementer dilaksanakan, partai-partai yang punya suara terbesar membentuk pemerintahan dari tahun 1946 sampai tahun 1955. Kebebasan pers saat itu sangat baik dan jauh lebih terjamin dibandingkan dengan masa kini. Bayangkan, berbagai harian bisa mengkritik pemerintah secara langsung . Jika pemerintah tersinggung paling-paling mereka membantah. Artinya pemerintah mengerti yang disebut hak jawab. Hally, istri saya, sangat kritis terhadap berita-berita yang dimuat harian Indonesia Raya. Jika Indonesia Raya dianggap melempem, ia pasti menyindir saya. “Kok, rasanya sudah nggak enak ya baca Indonesia Raya.” Saya tertawa saja. Buat saya, komentar Hally memang penting karena ia sangat berharga dalam kehidupan saya. Ia adalah istri yang setia dan mengerti akan perjuangan. Ia sangat tabah ketika saya dipenjara. Ia tahu itu konsekuensi perjuangan. Tentu Hally sangat sedih. Tapi Hally sangat mendukung perjuangan kami sepenuhnya. Ketika saya ditahan di Madiun, Hally pasti muncul setiap bulan, naik KA berjubel-jubel, dengan ibu Anak Agung, Anak Agung Gde Agung, Yunan Nasution, dan lain-lain.

BUNG KARNO DAN SAYA

Orang sering menganggap saya sebagai musuh bebuyutan Bung Karno. Sebenarnya saya sangat menghargai Bung Karno pada awal pemerintahannya hingga masyarakat dan pers bisa sebebas itu. Bahkan, percaya atau tidak, Bung Karno pernah menjadi salah satu idola saya pada zaman Belanda. Pada zaman pendudukan Jepang saya mulai skeptis padanya karena ia menganjurkan anak-anak muda masuk romusha dan heiho. Sebagai pemimpin seharusnya ia tahu akibatnya pada anak-anak muda yang kagum padanya. Pertemuan saya pertama kali ketika saya mewakili Antara di Yogyakarta. Saat itu, ibu kota Indonesia masih di Yogykarta. Saya ingat, ada sekitar lima atau enam wartawan yang berbincang dengan Bung Karno dan banyak orang, sehingga saya tak punya kesempatan berbincang secara personal. Ketika Bung Karno kembali ke Jakarta dan masuk ke Istana Merdeka, saya mulai mengenal Bung Karno secara pribadi. Maklum saat itu, tak seperti masa kini, Istana Merdeka sangat terbuka bagi wartawan. Bung Karno rajin mengundang kami makan bersama sambil mengobrol, saya terkesan oleh keramahan dan kehangatannya. Bayangkan, kami selalu diperlakukan sama, duduk bersama dan makan bersama di satu meja. Indonesia Raya mulai mengkritik Bung Karno ketika ia kawin lagi dengan Hartini. Suatu hari kami didatangi serombongan perempuan yang menamakan dirinya Perhimpunan Puteri Indonesia (PPI). Ini organisasi pembebasan wanita yang sama sekali tidak identik dengan filsafat Dharma Wanita. Sayang saya lupa nama ketuanya. Yang jelas rekan-rekan wanita ini mengutarakan kekecewaan mereka, kenapa Presiden Indonesia yang mereka hormati dan selalu memuji harkat wanita wanita Indonesia itu bisa kawin lagi. Mereka semua berpihak pada Fatmawati dan mengatakan harian Indonesia Raya harus membicarakan soal ini. ” Ini menyangkut martabat perempuan. Lihat, masa ibu negara diperlakukan seperti ini,” kata salah satu anggota PPI. “Tunggu dulu. Apa benar Presiden kawin lagi, kami harus mengecek lagi,” kata saya merasa terdesak. Lalu mereka menginformasikan Bung Karno mengawini Hartini di Cipanas. Akhirnya, saya pergi sendiri kesana. Saya cari penghulunya ke Kantor Urusan Agama. “Pak, saya dengar ada kabar gembira ya. Presiden kita sudah memperbesar keluarganya dan saya dengar bapak yang mengawinkan ? ” Penghulu itu nampak senang mendengar pertanyaan saya, “O, betul Pak …” katanya semangat. Dia membuka bukunya. Saya baca : nama Soekarno, jabatan Presiden Indonesia dan seterusnya. Dan nama itu memang menikah dengan Hartini. Saya catat apa yang saya baca. Kisah ini kami beritakan di harian Indonesia Raya sebagai head line dan editorial keesokan harinya. Pemberitaan kami mengakibatkan kehebohan. Apalagi, kami juga menekankan di editorial bahwa betapa tak pantasnya seorang pemimpin memberi contoh demikian. Yang kami dengar kemudian, Bu Fatmawati bermaksud meninggalkan istana. Yang menarik, setelah hebohnya headline itu, Bung Karno toh masih mengundang saya ke Istana Bogor untuk menghadiri acara rutin yang diadakannya. Ini acara berpiknik Bung Karno dengan wartawan beserta istri masing-masing sambil makan siang, mendengarkan musik dan menari lenso. Sikapnya tetap baik. Malah dia berolok-olok kepada rekan-rekan, “Alaah, Mochtar kan cuma cemburu sama saya…” Ha,ha,ha …Bung Karno memang lucu.

Indonesia Raya terus menghantam perkawinan-perkawinan Bung Karno berikutnya setelah perkawinannya dengan Hartini. Tapi Bung Karno tidak pernah bereaksi terhadap tulisan-tulisan itu. Yang membuat Bung Karno berang salah tulisan saya mengenai sikap Bung Karno terhadap Jepang. Saya mengkritiknya gara-gara ratusan ribu pemuda Indonesia bersedia manjadi romusha dan heiho. Mereka mati disiksa Jepang karena mengikuti seruan Bung Karno dalam pidatonya untuk membantu perjuangan tentara Jepang. Saya punya banyak bukti kejamnya perlakuan Jepang terhadap pemuda-pemuda Indonesia yang ikut romusha. Ketika ibu kota dikembalikan ke Jakarta, Bung Adam Malik bilang kami harus keliling Asia Tenggara untuk membuat kontak-kontak untuk Kantor Berita Antara. Di Filipina, kami bertemu dengan dua orang Indonesia yang pernah ikut romusha. Tubuh mereka bagaikan mayat, sudah tak berdaging dan mata cekung. Adapun yang bersedia bergabung dengan jibakutai, pasukan bunuh siri Jepang. Saat terakhir Jepang di Jakarta, sebelum pasukan Inggris masuk, saya bertemu dengan satu regu jibakutai. Mereka digunduli, berbadan besar dan tidak bersedia berbicara. Sayang ketika Jepang kalah, Jepang banyak membakari dokumen militer mereka. Saya yakin, sebenarnya belakangan Soekarno menyadari bahwa imbauannya terhadap pemuda Indonesia untuk bergabung menjadi romusha dan heiho adalah kesalahan besar. Namun, tampaknya sudah terlajur termakan slogan “Ingris kita linggis, Amerika kita seterika”, meski sudah jelas Jepang akan kalah.

Suatu hari Jaksa Agung Suprapto menelpon saya: “Bung Mochtar, coba datang kemari sebentar.” Sayapun datang. Pak Suprapto menceritakan ada telepon dari Istana mengenai tulisan romusha.” Saya tertawa. ” Perkara Romusha ? Wah, saya senang sekali kalau bisa bicara dengan Presiden soal Romusha,” sambut saya. “Saya siap dituntut, Pak. Saya bisa mengumpulkan sekitar 100 atau 200 orang yang pernah ikut Romusha” sambung saya lagi. Saat itu undang-undang masih berlaku dengan baik, jadi saya siap menghadapi tuntutan seorang Presidenpun. “Tunggu dulu,” kata Jaksa Agung, “Saya harus lapor dulu pada Bung Karno.” Tiga hari kemudian saya ditelepon Jaksa Agung dan saya diminta singgah lagi. “Bung Karno tidak jadi menuntut …” kata Jaksa Agung Suprapto. “Lho, kenapa ? Saya sudah menyatakan sudah bersedia kok,” kata saya. “Entah. Katanya, cabut saja,” jawab Jaksa Agung Suprapto.

Salah satu contoh lagi tentang kemerdekaan pers saat itu adalah kasus Roeslan Abdulgani, menteri luar negeri waktu itu. Ia menuntut Harian Indonesia Raya. Waktu itu ada undang-undang yang melarang warga negara Indonesia membawa mata uang asing ke luar negeri tanpa izin Departemen Keuangan. Roeslan Abdulgani dititipi uang oleh kawannya yang bernama D. Quelyu, bekas direktur Percetakan Negara, untuk suatu keperluan. Lalu kami mendengar keluhan orang Departemen Keuangan tentang pelanggaran ini. Isi tulisan Indonesia Raya merusak nama baiknya. Kami membuktikan memang dia telah melakukannya, dan hakim membebaskan saya dari dakwaan Ruslan Abdulgani. Belakangan, Roeslan Abdulganilah yang menjadi terdakwa. Bayangkan, zaman itu, seorang menteri bisa dibawa ke meja hijau. Dan bahkan di dalam pengadilan terbukti Roeslan telah membawa uang asing hingga ia dijatuhi hukuman penjara dua tahun sekian bulan. Presiden Soekarno segera memberi amnesti kepada Roeslan, maka ia tak dipenjara. Hubungan saya dengan Roeslan tetap baik setelah kejadian itu, paling tidak dari pihak saya tidak pernah terjadi apa-apa. Hal-hal semacam ini masih bisa dilakukan pers jaman itu terutama karena lembaga yudikatif masih sangat indenpenden. Di masa itu pers masih dimungkinkan untuk menulis seorang menteri melanggar peraturan dan melakukan korupsi. Tentu saja sang menteri boleh menuntut. Tapi sang pemimpin redaksi juga mendapat kesempatan membuktikan apa yang ditulis itu bukan omong kosong. Ini menunjukkan bahwa perangkat hukum saat itu seperti hakim , jaksa, dan pengacara, masih bisa dipercaya intergritasnya.

Tapi setelah Bung Karno mulai kacau, membubarkan konstituante dan mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup, hancurlah masa jaya pers Indonesia. Ketika BK meninggal, terus terang saya sangat sedih. Buat saya, biar bagaimana, ia adalah seorang pemimpin besar yang banyak jasanya. Memang jasanya dihancurkannya sendiri dan telah meninggalkan warisan yang harus dibereskan kembali. Sebagai seorang tokoh, ia seorang tokoh yang tragis. Ia disanjung rakyat, bahkan hingga kini, tapi dalam kurun waktu terakhir, ia terlalu asyik dengan petualangan politiknya dengan PKI yang tidak bermutu. Saya banyak kawan-kawan lain adalah korban-korban dari PKI dan Lekra, jadi sulit bagi kami untuk melihat rasio di balik tindakan-tindakan mereka.

Di dalam dunia kesenian, PKI tak kalah agresifnya. Saya tak pernah kenal Pramoedya Ananta Toer, sastrawan yang tokoh Lekra, secara dekat, karena bagi saya dunia kami memang berbeda. Bahwa kemudian buku-buku saya, Achdiat Kartamihardja, Takdir Alisjahbana dan pengarang-pengarang lain dilarang karena desakan Lekra adalah salah satu desakan yang tidak mengherankan. Pelarangan itu resminya menyatakan buku-buku itu anti demokrasi terpimpin.

Saya ingat betul, sebelum saya ditahan oleh Soekarno, secara kebetulan saya bertemu dengan Aidit di resepsi di kedutaan RRC di Jakarta. “Aaah, Bung Mochtar, sudah lama tidak bertemu,” tegur Aidit. “Bung Aidit, makin hebat saja,” jawab saya. “Aaah, tidak, biasa saja. Begini Bung, saya ingin meramal sesuatu. Kelihatannya Bung Moctar dan mungkin anak-anak Bung tidak mungkin saya bikin menjadi PKI. Tapi saya pastikan, cucu Bung Mochtar suatu hari akan menjadi PKI. Saya yakin.” Saya tertawa mendengar ramalan itu. Tahun 1974, ketika para wartawan senior diajak Pangkobkamtib (saat itu) Jenderal Soemitro mengunjungi pulau Buru, kata-kata Aidit terngiang kembali. Apa katanya, jika ia melihat kawan-kawannya bekerja di pulau terpencil seperti ini, memacul, membersihkan WC dan kesepian ? Apakah Aidit masih akan tertawa terbahak-bahak ? Kami mendapatkan waktu tersendiri untuk berbincang dengan Pramoedya. Ia menceritakan bagaimana beratnya tinggal di pulau Buru dan bagaimana mereka harus mendirikan rumah-rumah itu sekaligus menanam jagung dan membangun komunitas dari nol. Pram mengeluh bahwa penjagaan terhadap mereka sangat keras dan jika ada yang berani mencoba lari, hukumannya sangat berat. Pram kelihatan sangat emosional dan memperlihatkan bahwa ia tak setuju dengan perlakuan terhadap penghuni penjara. Ia kelihatan sangat geram dan saya bersimpati kepadanya.

SAYA DITAHAN

Di suatu malam jumat, 21 Desember 1956, saya ditahan atas perintah Bung Karno. Ia memerintahkan Nasution untuk menangkap saya. Nampaknya akhirnya kesal juga melihat tak bosan-bosannya mengkritiknya. Beberapa kawan sudah mulai mengolok-olok saya karena masih juga berseliweran dan belum juga ditahan Bung Karno. Awalnya penangkapan tokoh-tokoh PSI dan Masyumi, seperti Syahrir, Subadio (Sastropratomo) dan Natsir. Saya mengkritik penangkapan ini. Lalu saya dikenakan tahanan rumah. Indonesia Raya boleh terbit. Saya tetap menulis tajuk rencana. Caranya, Hally membawa naskah itu ke kantor dan sementara saya tetap di rumah saya di jaga dua CPM bersenjata penuh setiap hari. Bulan pertama, saya tak boleh terima tamu. Bulan berikutnya saya sudah mulai bisa merayu para penjaga. Saya bercerita tentang alasan saya mengkritik Bung Karno. Akhirnya mereka mulai mengerti kalau saya mau keluar rumah. “Pokoknya kami tutup mata deh, Pak …” kata mereka. Mereka percaya saya tak akan melarikan diri dan saya memang tak pernah berencana melarikan diri kemana-mana.

Suatu hari, malah para penjaga CPM itu yang permisi mau pergi sebentar. “Pak kalau letnan kontrol, tolong dong bilang kami di belakang. Kami tinggalkan senjata . Kami mau ke Jakarta Kota cari duit …” Mereka pergi ke Glodok. Ketika letnannya datang saya bilang anak buahnya sedang di belakang. Pernah pula suatu malam, mereka minta izin pulang. “Pak, sudah dua minggu saya tidak tidur sama istri, jadi minta pulang ya …” Nah, karena itu para penjaga CPM bisa kompak dengan saya. Setelah tiga bulan, saya bilang, ” Eh, sudah lama saya tidak nonton film. Nonton yuk..” Mereka mau dan katanya:”Tapi belakangan saja datangnya biar tidak kelihatan. Bapak terlalu dikenal orang, kalau ketahuan, kami yang susah.” Saya setuju. Maka saya nunggu di mobil sampai penonton sudah masuk semua, lantas kedua CPM itu mengurus tiketnya di Globe Teater. Ternyata tidak pakai karcis karena ada tempat duduk gratis buat anggota pemadam kebakaran yang dapat dipakai. “Pak, kolonel mau nonton, ” kata CPM itu kepada menejer bioskop. “O, beres …” Saya segera diantar ke dalam dan orang-orang memberi hormat pada saya. Saya menahan tawa geli. Dulu, jabatan kolonel itu sangat tinggi. Begitulah kehidupan saya selama empat tahun, Indonesia Raya tetap beredar dan tetap laku.

Setelah saya dibebaskan, saya mendapat undangan dari International Press Institute untuk menghadiri sebuah konprensi international di Tel Aviv. Di dalam konperensi itu saya mengatakan bahwa berbagai pemerintah negara berkembang tidak suka pada kebebasan pers. Banyak pemerintah negara berkembang takut di ekspos. Bung Karno nampaknya tidak suka dengan ucapan saya. Ketika saya pulang, mampir di Singapura karena janji ketemu dengan istri saya untuk honey moon kedua. Ketika kami tiba di Kemayoran, di Imigrasi, pegawainya mengatakan “Maaf Pak, ada perintah jika bapak pulang, paspornya harap diserahkan pada kami.” Saya jawab, “Ambil saja.” Sebulan saya tidak diapa-apakan. Lalu saya dipanggil Peperti (Penguasa Perang Tinggi), “Pak, kami diperintah menahan Bapak.” Waktu itu Mayor Pepertinya adalah Mayor Sudharmono yang sekarang menjadi Wakil Presiden. Jadi tugasnya dulu adalah menangkap-nangkapi orang. Alasannya menangkap saya karena saya dianggap menjelek-jelekan kepala negara. Padahal saya hanya mengatakan bahwa kebanyakan berbagai negara berkembang tidak suka kebebasan pers dan sama sekali tidak menyebut Bung Karno. Akibatnya, saya dibawa ke RTM (rumah tahanan militer) di jalan Budi Utomo dan dimasukkan ke dalam sel.

Itulah pertama kali saya masuk sel. Saya mendapat kamar yang sempit. Saya merasa gusar dan marah. Saya tak bisa duduk, tak bisa tidur. Beberapa hari dalam keadaan demikian saya seperti mendengar suara bahwa jika saya terlalu merasakan penderitaan di sel itu, saya akan sakit. Benar juga. Maka saya menulis surat untuk Hally agar membawakan buku-buku bacaan, kertas, dan pena. Saya membaca dan rajin menulis buku harian sekaligus bersosialisasi dengan orang-orang sesama ditahan. Ada serdadu, ada yang ditahan dengan tuduhan subversi, ada pencopet, ada pembunuh. Pokoknya mereka sangat menarik untuk dijadikan bahan cerita. Setelah beberapa lama di sana, saya dipindahkan ke RTM Madiun. Penjara di Madiun ini, berbeda dengan sebelumnya, penuh sesak dengan sebelumnya tahanan politik seperti Prawoto Mangunkusumo, Yunan Nasution, Kyai Ashari, Sultan Hamid, Princen dan lain-lain. Tapi saya nanggap penderitaan di penjara ini tak seberapa karena direktur penjaranya seorang kapten yang gila tenis. Ia selalu mengajak kami main tenis setiap kali ada yang membawa bola tenis baru dari Jakarta. Bahkan kami sering dibawa main tenis ke tengah kota, minimal sebulan sekali.

Sekali waktu kami dipanggil kepala penjara yang baru dapat instruksi dari Jakarta. “PKI mengadu, katanya bapak-bapak terlalu enak hidupnya di Madiun. Jadi sementara ini kita jangan main tenis di luar dulu,” katanya. Maklum, zaman itu PKI sedang dominan. Ketika peristiwa gerakan 30 September PKI pecah, saya masih di penjara Madiun. Kami semua hanya mendengar peristiwa itu dari radio Jakarta. Yang pertama disiarkan adalah nama-nama Dewan revolusi. Saya ingat, yang pertamakali bereaksi adalah pak Subadio, “Wah, ini jelas PKI.” Kami semua langsung berdiskusi dan berkesimpulan bahwa di belakang itu adalah PKI. Kami semua memang menentang PKI. Kami berbincang dengan pemimpin penjara, seorang komandan CPM, saya bilang, “Mayor, kalau PKI bisa jalan terus, kamilah yang pertama dibunuh di Madiun. Apakah anda bisa menjamin keamanan kami?” Mayor itu menjawab terus terang, “Tidak bisa Pak. Persenjataan dan anak buah kami tidak cukup. Tapi saya akan berusaha mengumpulkan senjata apapun ke sini. Nah, terserah Bapak-bapak akan melakukan apa. Jika mereka menyerbu, dengan anak buah yang lima orang ini, terserahlah.”

Kami menghargai keterusterangannya dan kerja samanya dan langsung menyusun strategi. Rekan-rekan sepenjara dari Masyumi segera mengontak kawan-kawannya di Madiun, entah bagaimana mereka juga mendapatkan senjata dan mereka menyatakan siap untuk menjaga orang-orang yang di penjara. Suasana saat itu sangat menyeramkan dan tegang. Ketika saya mendengar salah satu korbannya adalah Ade Irma Suryani Nasution, hati saya menangis dan luka. Ini peristiwa yang sungguh gila. Sambil tiduran, meski mata terpicing, saya teringat kembali bagaimana kejam dan berkuasanya PKI ketika Bung Karno memberi angin. Saya ingat bagaimana pandainya mereka menteror orang-orang yang menentang mereka. Tapi seberapapun kejamnya PKI masa lalu, saya tak setuju jika ada anak-anak atau saudara eks PKI ikut-ikutan terkena getahnya seperti apa yang terjadi di masa Orde Baru. Artinya mereka dihukum berdasarkan guilt by association. Konsep bersih lingkungan adalah sebuah konsep yang sangat tidak saya setujui. Apa salah anak-anak, kemenakan, atau cucu-cucu orang-orang PKI itu? Yang bersalah adalah orang tua mereka, bukan anak-anaknya atau saudaranya yang belum tentu percaya pada ideologi yang dianut bapak, adik, atau kakaknya. Itu sangat tidak adil dan tidak manusiawi. Tentang kejadian itu sendiri, saya tetap percaya bahwa kejadian tanggal 30 September itu adalah gerakan PKI.

SASTRA

Saya sudah mulai menulis sastra secara serius tahun 1946. Semuanya diawali karena saya tergugah melihat anak-anak muda yang mengikuti perjuangan bersenjata. Saya pernah mengikuti Syahrir, perdana menteri RI waktu itu, dan beberapa pejabat Departemen Luar Negeri ke Yogyakarta. Di kereta api ikut juga Soebandrio yang kala itu menjadi Sekjen Departemen Penerangan. Kala itu Bung Karno sudah pindah di Yogyakarta, tapi perdana menteri masih di Jakarta. Kami naik kereta api ke Yogyakarta. Ketika kami menyeberangi batas antara tentara Republik dan tentara Belanda di kali Bekasi, saya melihat anak-anak Indonesia mulai menembak. Kami jalan terus ke Karawang. Kereta api berhenti. Lalu, kami dapat laporan, beberapa anak Indonesia terkena tembak. Soebandrio sebagai dokter segera bertindak. Dia mendiagnosa ada yang kakinya harus dipotong. Karena tidak ada alat untuk melakukan operasi, kaki mereka dipotong dengan gergaji. Sungguh mati, saya tak kuat melihatnya. Itulah sebabnya jika saya melihat para politikus Indonesia mempermainkan rakyat, wuaduh, saya marah besar. Saya sudah melihat bagaimana rakyat bersedia mengorbankan jiwanya untuk kemerdekaan Indonesia. Saya tidak ingin terlalu emosional dalam sebuah penulisan jurnalistik, meski yang saya lihat adalah realita.

Menyadari keterbatasan jurnalistik, saya lalu menuangkan hal-hal seperti itu ke dalam sastra. Sastra bisa mengekspresikan persoalan humanitas dan emosi manusia dengan kuat. Cerita pendek saya yang pertama dimuat di majalah Siasat. Waktu itu, usia saya sekitar 24 tahun. Lalu cerita pendek berikutnya dimuat di Mimbar Indonesia. Saya selalu menulis sebuah kisah fiksi berdasarkan pengalaman-pengalaman saya. Sastra saya adalah kisah nyata berdasarkan kisah masyarakat kehidupan yang nyata. Bromocorah, Harimau-harimau, Kuli Kontrak, Si Djamal semuanya adalah berdasarkan kisah nyata. Bromocorah diilhami pada saat saya ditahan Bung Karno di Madiun. Bromocorah yang mengilhami saya itu kerjanya membelah kayu dan saya sendiri sering mencari kayu untuk saya ukir. Kami sering mengobrol dan dia menceritakan ketika lari ke Riau. Saat itu masih banyak perampok kapal yang datang dari Singapura. Dan dia mengaku sering ikut kapal-kapal itu untuk merampok. Cerita pendek Dara juga adalah sebuah kisah nyata tentang anak puteri kawan saya. Mengembara dalam Rimba adalah pengalaman saya ketika masih muda mengembara dalam hutan-hutan. Si Djamal memperlihatkan kenaifan manusia Indonesia. Dia seorang intel di Yogyakarta ditugaskan memata-matai Belanda di Jakarta. Belum apa-apa, yang dilakukannya pertama kali adalah mendatangi saya di kantor, menunjukkan kartu intel yang dimilikinya dan menceritakan ke seluruh dunia bahwa ia adalah intel. Waduh, naif betul. Saya tertawa terbahak-bahak melihat kelakuannya. Juga banyak yang merasa bahwa dalam Senja di Djakarta saya menceritakan sebagian kawan-kawan saya. Soedjatmoko sampai menghampiri saya dan mengatakan, “pasti tokoh ini adalah saya….” Dan saya jawab, “saya tak akan bilang apa-apa, tapi yang pasti memang ada Anda.” Kami sama-sama tertawa.

Saya ingat, suatu pagi ketika saya naik mobil menuju kantor Indonesia Raya, saya melihat seorang wanita yang kotor dan setengah telanjang. Ia berdiri di bawah pohon dan beberapa kali saya lewat, ia tampak tertawa sendiri dan ngobrol sendirian. Sepotong kain yang menutup pinggulnya tampak kotor dan sobek-sobek. Maka saya tanyakan Hally pada apakah ia memiliki sepotong kain batik bekas untuk diberikan pada perempuan itu. Hally segera memberi sepotong kain batik dan sehelai blus. Pagi itu juga saya menghampiri perempuan itu. Karena nampaknya sukar berbicara dengannya, saya hanya menggunakan bahasa tangan saja bahwa saya ingin memberikan kain batik dan blus itu padanya. Ia malah lari meninggalkan saya dan setiap kali saya mendekat ia menjauh malu-malu. Beberapa hari saya bolak-balik, dan yang terjadi adalah wanita itu lari setiap kali melihat saya. Akhirnya saya tinggalkan saja potongan kain itu di bawah pohon. Dari jauh, saya melihatnya ia mengambil kain batik dan blus itu. Sebuah pertanyaan yang selalu mengganggu saya adalah: apakah wanita itu benar-benar gila atau ia berpura-pura gila? Setelah beberapa lama, akhirnya saya menulis sebuah cerita pendek berjudul Perempuan Gila. Isi ceritanya adalah seorang perempuan yang sebenarnya tidak gila, tapi karena tidak memiliki baju, maka ia berpura-pura menjadi gila. Saya ingat, saya menerima beberapa surat yang menyukai cerpen itu, tapi beberapa surat lain protes karena menganggap saya membesar-besarkan kondisi kemiskinan di Indonesia. Nampaknya banyak juga orang Indonesia yang menolak untuk melihat realitas di sekelilingnya.

Tapi, semua komentar ini penting untuk saya. Kritikus yang paling saya perhatikan di dunia ini adalah isteri saya sendiri. Seperti dalam dunia jurnalistik, Hally pun berperan penting dalam dunia kepenulisan saya. Ia sangat penting bukan hanya dalam karya saya, tapi dalam kehidupan saya. Terkadang karya saya saya ubah karena kritik Hally, tapi sering juga saya biarkan. Perhatian saya terhadap dunia sastra salah satunya adalah melalui Yayasan Obor. Ini adalah satu yayasan yang antara lain bergerak di bidang penerjemahan karya sastra asing ke Indonesia. Saya menganggap, masyarakat Indonesia patut diperkenalkan dengan karya sastra dunia, yang bukan hanya dunia Barat tapi juga belahan dunia lainnya, misalnya India, Filipina, Muangthai, Kenya, dan negara Dunia ketiga lainnya misalnya negara Amerika Tengah dan Selatan. Tapi itu tak berarti saya tak menghargai sastra Indonesia. Saya menyukai karya-karya Ramadhan KH karena ia sangat memperhatikan persoalan sosial. Novelnya Kemelut Hidup dan Keluarga Permana sangat menyentuh perasaan saya. Saya juga menyukai karya Achdiat Kartamihardja dan Rendra. Saya juga menyukai Sutardji Calzoum Bachri karena ia berhasil membuat inovasi baru dalam dunia kepenyairan Indonesia. Tapi yang saya kenal betul sebagai seorang penyair dan secara pribadi adalah nama Chairil Anwar. Pertemuan pertama saya di rumah seorang teman. Lantas, saya juga sering bertemu di rumah Bung Syahrir. Saya tertarik dengan semangatnya yang selalu berapiapi, matanya selalu merah, dan badannya ceking seperti kekurangan makan. Mungkin karena itu dia selalu datang ke rumah saya tepat jam makan siang, ha,ha,ha….. Chairil pernah juga menyumbang perpustakaan saya dengan buku-buku curiannya. Ha,ha,ha. Ceritanya begini. Setiap hari saya menuju kantor majalah Mutiara, kantor saya sebelum mendirikan Indonesia Raya, saya selalu melalui sebuah toko buku besar yang terkenal, Van Dorp. Saya tahu betul, Chairil sangat ahli mencuri buku di situ. Pernah saya iseng-iseng bilang, “Ril, saya ingin deh sebuah buku.” Chairil mencatat nama buku itu, lalu katanya: “Beres. Kau bonceng aku ke toko buku itu, Tar.”Setengah jam kemudian dia datang dan melempar buku itu ke atas meja saya. Dia juga sering meminjam buku milik perpustakaan USIS (United States Information Service) untuk saya dan tidak mengembalikannya. Gila nggak!! Ha,ha,ha….

Bicara tentang Chairil berarti bicara soal wanita-wanita impiannya. Pacar Chairil banyak betul. Kelihatannya waktu Chairil hanya habis digunakan untuk pacar-pacar dan puisinya. Kami selalu prihatin melihat cara Chairil menggunakan waktunya. “Ril, kau ini jangan seperti lilin, terbakar di ujung atas dan bawah. Kau punya bakat begitu bagus. Jaga dong kesehatanmu.” Dia selalu menjawab dengan matanya yang merah dan suara parau, “Ah, itu kan prinsip hidup kalian yang borjuis. Aku ini seniman murni.” Seringkali kini jika kita berdebat soal sastra dan kebudayaan, saya teringat Chairil karena pemikiran Chairil tentang budaya sangat tajam. Memang benar sekarang banyak sekali seniman-seniman muda yang potensial dan banyak pula forum-forum yang tumbuh. Tapi saya tidak yakin diskusi-diskusi atau forum yang terjadi kini mengekspresikan keadaan di masyarakat.

Saya ikut dalam Forum Kebudayaan yang diorganisasi oleh Fuad Hassan. Banyak rekan-rekan, antara lain Sutan Takdir Alisyahbana, Umar Kayam, yang duduk di dalam forum ini yang bertugas mempersiapkan ide-ide masalah kebudayaan yang harus masuk dalam Kongres Kebudayaan. Tapi nyatanya, yang dilontarkan oleh anggota forum tak ada yang diperhatikan sama sekali. Salah satu contoh saja, saya diminta menulis peranan seniman dalam masyarakat. Lalu saya bilang, “Saya tidak suka tema ini. Ini sudah sering dibicarakan dan tak ada gunanya diulang-ulang. Saya ingin memfokuskan persoalan kebudayaan hari ini dan mendatang.” Lalu surat saya tidak dibalas lagi. Ya sudahlah, saya tak perlu datang. Bagi saya, uang satu milyar rupiah ongkos Kongres Kebudayaan itu buang-buang uang saja. Saya merindukan perdebatan-perdebatan kebudayaan yang mampu membuat kita berpikir lebih mendalam tentang problem-problem kebudayaan yang sedang dan akan kita hadapi. Saya teringat terjadinya perdebatan panas tentang apakah sastra bisa menggerakkan masyarakat untuk menjadi revolusi. Tentu saja saya tak percaya sebuah karya sastra secara langsung bisa meletupkan revolusi besar. Jika kita menulis sastra dengan mengungkapkan nurani, dengan sendirinya sastra itu sudah menyentuh perasaan manusia dan mendorong manusia untuk berpikir. Jadi saya lebih percaya bahwa sastra bisa menggerakkan manusia untuk berpikir.

MASA ORDE BARU

Ketika Orde Baru, harapan saya mulai tumbuh. Tapi harapan dan kegembiraan saya hanya berusia beberapa tahun pertama. Saya mulai kecewa ketika Orde Baru tidak cukup rasional dalam menangani soal Taman Mini Indonesia Indah. Ketika mahasiswa protes dan Arief Budiman sampai digiring ke atas truk, saya sedih dan mulai ragu terhadap keadilan Orde Baru. Rekan-rekan di Indonesia Raya mulai menganggap ada sesuatu yang terulang kembali di dalam Orde Baru. Ketika Ibu Tien mulai tampil dengan usulnya mendirikan Taman Mini Indonesia, sikap kami menentang karena kami anggap TMII bukanlah sebuah prioritas untuk saat itu. Banyak ahli ekonomi maupun rekan wartawan yang menganggap bahwa prioritas pertama adalah menaikkan taraf hidup rakyat. Tidak ada yang bermimpi setiap rakyat harus mampu tinggal di rumah mewah, tapi paling tidak rakyat harus bisa menikmati taraf hidup yang paling minimum dan kebutuhan dasar sehari-hari sudah harus bisa dicapai. Tapi, masih ada sekitar 20 sampai 30 juta rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Ketika Indonesia Raya menulis kritik terhadap TMII melalui pemberitaan dan tajuk rencana, pers Indonesia belum mengalami belenggu yang ketat seperti masa kini. Buktinya kami masih bisa memuat tulisan-tulisan orang yang mengkritik berdirinya Taman Mini. Saya kira, Orde Baru masih mengalami masa balita sehingga mereka masih mentoleransi kritik-kritik. Jadi kami tidak dibreidel, tidak ditegur, bahkan tidak ditelepon sama sekali. Di masa Orde Baru pun saya pernah ditahan tanpa melalui pengadilan, tanpa kesalahan, dan hingga sekarang tak pernah ada penjelasan apa pun. Semua bermula ketika tanggal 15 Januari 1974 saya berangkat ke Paris untuk memenuhi undangan UNESCO. Di sepanjang jalan dari Matraman ke Senen saya lihat betapa ramainya anak-anak muda bergerombol. Saya tidak mendengar apa-apa tentang Malari atau Peristiwa Lima Belas Januari sebelumnya. Yang saya tahu adalah, ketika pulang dari Paris, harian Indonesia Raya bersama berbagai media lainnya telah ditutup. Dan saya ditahan tanpa alasan yang jelas. Dalam sebuah wawancara majalah TEMPO dengan Jenderal Yoga Soegama, ia mengungkapkan sesuatu yang menggelikan. Ia menganggap bahwa saya adalah PSI atau paling tidak simpatisan PSI. Dan saya dengar saya dituduh pernah mengadakan pertemuan dengan Hariman Siregar di kantor Indonesia Raya dalam rangka menggerakkan mahasiswa. Itu semua adalah tuduhan yang sungguh tidak bermutu!

Memang benar saya sering berdiskusi dengan anak-anak muda karena mereka sering bertandang ke rumah saya, hingga sekarang. Diskusi itu memang ngalor ngidul dari soal dunia, hingga kritik-kritik kebijakan pemerintahan Orde Baru. Tapi itu hanya diskusi biasa yang saya yakin dilakukan berjuta penduduk Indonesia di berbagai forum resmi maupun tak resmi. Jadi hingga hari ini, Indonesia Raya beserta Harian KAMI, Nusantara, Pedoman dan lain-lainnya sudah tinggal makam saja. Indonesia Raya pasti dikhawatirkan karena kritik-kritiknya. Apalagi sekarang, ketika soal komisi Haji Thahir dan Pertamina ramai dipersoalkan. Maklum, kami mendapatkan bukti-bukti kasus korupsi Pertamina sampai satu koper banyaknya. Isi dokumen itu antara lain adalah laporan pengeluaran minyak yang kemudian dimanipulasi pada saat penjualan. Dan selisih beribu-ribu liter minyak itu tak jelas ke mana larinya. Headline harian Indonesia Raya terus menerus membicarakan masalah korupsi ini hingga berminggu-minggu lamanya karena saya anggap ini kasus yang harus diberantas.

Seingat saya, reaksi pemerintah kemudian membentuk Panitia Tujuh dengan ketua Wilopo. Waduh, berapa puluh ribu rupiah ongkos yang dikeluarkan Indonesia Raya untuk memfotokopikan dokumen-dokumen itu, padahal kami tidak terlalu kaya. Tapi, kami pikir, ini demi pemberantasan korupsi dan karena pemerintah yang meminta, maka kami berikan. Satu kopor fotokopi dokumen kami berikan kepada Panitia Tujuh dan satu kopor gede lagi buat Kejaksaan Agung. Toh sampai hari ini tak pernah terdengar hasilnya. Padahal Adam Malik sudah bilang, pemerintah akan menyediakan 80 orang akuntan untuk memeriksa keuangan Pertamina. Setahun setelah kami mengekspos kasus Pertamina, saya ikut menyelenggarakan International Association Cultural Freedom di Bali yang dihadiri berbagai intelektual asing dan Indonesia. Ternyata, Ibnu Sutowo mengadakan resepsi untuk para peserta pertemuan itu di sebuah gedung di jalan Merdeka Barat. Karena saya yang mengantar beberapa tamu asing itu, maka mau tak mau saya juga ikut ke resepsi itu. Untuk pertamakali, setelah ekspos Pertamina itu, saya bertemu dengan Ibnu. Dan saya kagum, betapa correctnya sikap Ibnu kepada saya. Dengan sopan dia mempersilahkan kami dan mengatakan senang sekali bisa menjamu kami. Dia tidak menyentuh apa pun soal pemberitaan kami. Sebenarnya kami pernah mendapatkan tanda-tanda optimisme dari pihak pemerintah untuk menerbitkan Indonesia Raya kembali. Tapi syaratnya adalah: nama korannya harus diganti jika pemimpim redaksinya saya, atau namanya tetap Indonesia Raya dengan pemimpin redaksi berbeda. Saya menolak persyaratan ini. Karena jika saya menerima salah satu persyaratan itu, berarti seolah-olah yang dituduhkan kepada saya itu memang benar.

Saya ingat, ketika saya baru dilepaskan dari tahanan setelah beberapa bulan. Pagi itu, saya masih melukis dan tiba-tiba saja seorang petugas penjara terengah-engah menceritakan bahwa saya dipanggil oleh Jaksa Agung Ali Said. “Biasanya kabar baik, Pak…” kata petugas. “Wah, nanti dulu deh, saya masih mau melukis,” jawab saya. Pagi itu, saya memang sedang dalam mood ingin melukis. Tapi petugas itu memaksa. Akhirnya, saya setuju dan dibawa mobil menuju kantor Jaksa Agung Ali Said. Di dalam kantornya, Ali Said langsung menjabat saya dan mengatakan bahwa ada kabar baik, “Anda dibebaskan!””Dibebaskan? Saya boleh ke mana saja?” tanya saya. “Ya, ke mana saja!” Ali Said menceritakan pertemuannya dengan pak Harto bahwa investigasi tentang saya menghasilkan kesimpulan bahwa saya tak bersalah dan tak ada bukti saya ikut menggerakkan Malari. Dan menurut Ali Said, Pak Harto mengatakan, “Sudah saya bilang pada Yoga, memang tak mungkin Mochtar Lubis melakukan hal yang bodoh seperti itu.” Cerita Ali Said ini kemudian saya tuliskan langsung di buku harian saya. Dan buku harian itu kini sudah diterbitkan sebagai sebuah buku dalam bahasa Belanda. Saya mengerti jika pers masa kini sulit untuk memberitakan soal nepotisme dengan telanjang, misalnya. Saya merasa simpati dan sedih. Begitu banyak wartawan muda yang sangat potensial, mampu berbahasa Inggris dan berwawasan luas, tapi geraknya terbatas karena adanya SIUP. Saya mengerti betul jika wartawan muda menjadi frustrasi karena mereka pasti sudah membongkar berbagai skandal, tapi demi kelangsungan hidup penerbitan maka masalah-masalah korupsi dan nepotisme itu tak bisa ditulis secara blak-blakan.

Orang memakai alasan bahwa kebebasan pers hanya bisa hidup di Barat. Saya sama sekali tak setuju dengan pandangan yang begitu simplistik ini. Ketika saya diwawancarai sebuah harian tentang Hari Pers Nasional, saya jawab bahwa itu adalah hari berkabung untuk pers Indonesia. Wartawan muda itu kaget dan mengajukan argumennya bahwa kini industri pers sudah lebih maju. Tentu saja industri pers sudah lebih maju. Tapi kalau ada wartawan yang menganggap bahwa SIUPP itu wajar dan menganggap bahwa kebebasan pers itu hanya hidup di negara-negara Barat, alangkah sedihnya saya.

Hal lain yang perlu ditulis saat ini, menurut saya adalah soal harkat wanita Indonesia. Menurut saya, meski sekarang sudah banyak wanita kota yang berpendidikan tinggi dan berpikiran maju, lelaki Indonesia masih tetap patriarkis, tetap chauvinis dan egois. Secara kultural, mereka masih lebih dinomorsatukan hingga dalam soal sosial dan politik, perempuan masih selalu didiskriminasi. Pernah saya ke pantai Selatan Ujung Kulon (Binuangen) saya bertemu seorang perempuan usia 14 tahun. Setelah kami bercakap-cakap, saya menjadi sedih dan sakit hati. Ketika berusia 11 tahun dia sudah dipaksa kawin. Lakilaki itu meninggalkannya setelah empat bulan. Dikawinkan lagi, ditinggal lagi setelah dua bulan. Sekarang dia sudah dipaksa kawin lagi untuk ketiga lagi.

Saya heran bagaimana undang-undang perkawinan bisa melindungi perempuan di desa seperti ini. Di kota pun sebenarnya persamaan hak wanita dan pria Indonesia masih terbatas di atas kertas saja. Salah satunya adalah tragedi Dharma Wanita. Buat saya sungguh menggelikan melihat seorang wanita menjadi Ketua Dharma Wanita hanya karena suaminya adalah seorang menteri. Padahal bisa saja isteri dari salah satu anak buahnya jauh lebih mampu memimpin. Bagi saya, Dharma Wanita adalah sebuah konsep dan pemikiran yang maha feodal. Saya pernah membuat penelitian untuk sebuah organisasi internasional tentang PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) ke pulau Alor. Organisasi ini pernah mendengar bahwa bantuan yang diberikan kepada PKK tidak digunakan secara efisien. Saya bertemu dengan isteri lurah dan menanyakan efektifitas PKK. Ibu lurah mengatakan bahwa saya hanya boleh melempar pertanyaan pada perempuan yang mendampinginya. Selama dua jam ibu-ibu itu tak (berani) mengeluarkan sepatah kata pun. Bagi saya, ini sangat mencemaskan. Kemudian saya dengar bahwa Ibu lurah itu buta huruf, karena itu pendampingnya yang harus bicara atas nama dia.

Pernah juga saya menyaksikan ibu-ibu dibawa ke pusat PKK untuk mendapat makanan sehat, susu, dan kacang-kacangan. Ketika saya tanyakan salah seorang ibu apakah di rumah mereka mendapat makanan yang sama, maka ibu itu menjawab tidak. Mereka hanya bisa memakan seadanya. Padahal, laporan-laporan PKK yang diberikan kepada pihak donor adalah keadaan dan situasi yang bagus, timbangan bayi sehat, makan setiap hari bergizi dan laporan-laporan indah lainnya. Perhatian saya terhadap perempuan saya ekspresikan dalam kumpulan cerita pendek yang saya beri judul Perempuan.

APA YANG SAYA INGINKAN KINI

Kini saya adalah seorang Bapak dari tiga anak dan kakek dari 10 cucu-cucu yang manis. Tak ada satu pun anak saya yang menjadi wartawan maupun penulis. Mungkin mereka kenyang melihat bapaknya dipenjara melulu, ha,ha,ha….. Saya merasa beruntung selalu berbadan sehat dan tidak dibebani penyakit yang serius. Saya hanya pernah sakit kena malaria di Srilanka. Saya menjaga kesehatan saya dengan rajin beryoga. Ini salah satu oleh-oleh saya dari penjara selain keahlian mendongkel pintu dan mencopet dompet, ha,ha,ha…. Saya juga rajin berlatih kungfu dari seorang guru yang sudah sangat tua. Selain itu saya main tenis seminggu dua kali setiap jam enam pagi. Itu saya lakukan sejak usia 16 tahun. Olah raga saya yang lain adalah naik gunung. Saya sering naik gunung sendirian saja, menikmati hutan sendirian. Indah sekali. Karena keranjingan olah raga itu, maka ketika saya checkup di Singapura, sang dokter kagum mengatakan, “You have a fine machine, Mr.Lubis” katanya tertawa.

Meski saya punya kiritik besar terhadap kehidupan sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia saat ini, saya selalu berpandangan optimistis. Saya tidak ingin bersikap pahit, karena itu tidak akan membantu memperbaiki keadaan. Pahlawan saya adalah Mahatma Gandhi. Saya merasa sangat beruntung pernah bertemu dengannya. Waktu itu saya harus menghadiri Konperensi Asia pertama. Untuk menerobos blokade Belanda kami mengendarai pesawat milik Patnaik, seorang pengusaha India yang sangat simpati dengan perjuangan Indonesia. Ia segera menyediakan beberapa kapal terbang buat menjemput kami di Maguwo. Sampai di Singapura, baru kami naik pesawat lain ke India. Gandhi mendatangi delegasi kami. Ia begitu sederhana dengan mengenakan selembar kain putih dan sandal. Melihat mukanya saja, saya sudah jatuh sayang kepadanya begitu bening, begitu halus dan lembut. Tingkah lakunya persis seperti yang sering digambarkan media dan buku-buku tentang dirinya.

Dengan membaca pemikiran Gandhi, saya selalu percaya akan perjuangan tanpa kekerasan. Saya tak percaya bedil dan saya tak ingin aliran darah. Saat ini, banyak yang menganggap keberhasilan Orde Baru adalah stabilitas. Tapi untuk saya, stabilitas yang tercipta sangat semu karena berbagai hal dilakukan dengan paksaan. Tapi, seperti biasa, saya masih percaya, masyarakat Indonesia akan terus menerus menuntut haknya untuk berpartisipasi. Saya percaya, kita semua adalah orang-orang yang pandai….

Sumber: TEMPO Online, 14 Maret 1992.

Explore posts in the same categories: Bisuk

One Comment pada “Mochtar Lubis: Pahlawan Saya Mahatma Gandhi”


  1. keren ceritanya…🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: